Gandum atau Ilalang?

 Rob P  |     20 Jul 2014, 09:31

Ada seorang teman mengirim pesan sms kepadaku, isinya: "aku sedang galau, kecewa berat....." Ternyata dia habis kena tipu. Sejumlah uang simpanannya raib. Dia mengeluh kenapa orang jahat dibiarkan hidup. Bahkan mencelakakan orang baik.

Memang kadang kita berpikir, kenapa Tuhan membiarkan hal seperti ini terjadi?

Perikop injil yang dibacakan pada akhir pekan ini memberikan jawaban. Penggalan Injil Matius 14:24-30 merupakan nasehat yang dikemas dalam perumpamaan yang sangat gamblang menyuarakan kehendak Kristus atas jalan hidup yang harus kita lalui. Sebaliknya juga bagaimana usaha setan untuk menggagalkannya. Tuhan selalu menabur benih gandum yang baik dalam hati manusia. Tetapi ternyata Satan juga menaburkan benih ilalang yang jahat yang merusak dan menghambat pertumbuhan gandum-gandum itu. Celakanya benih ilalang sering tampak lebih menarik.

Akibatnya ranah pesemaian ini terisi oleh gandum dan ilalang.

Ilalang yang berduri akan berusaha melukai dan menghambat perkembangan gandum sehingga tidak berbuah.

Siapakah kita? Gandum atau ilalang?

Ternyata pada kenyataannya kedua benih yang baik dan buruk tertaburkan pada hati kita. Dan menjadi pilihan kita untuk menumbuhkan yang mana?

Kadang-kadang kita merasa Tuhan meninggalkan kita, dan kita mulai cenderung condong untuk menyirami benih ilalang. Padahal yang terjadi bukan Tuhan yang meninggalkan kita, tetapi kita yang tidak melihat kehadiran Tuhan dalam hati kita.

Kehadiran Tuhan sering tertutup oleh macam-macam godaan. Keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang tampaknya akan membahagiakan, padahal setelah kita dapatkan cuma kepuasan dan kebahagiaan yang diberikannya semu, cuma sesaat dan tidak bermanfaat. Atau sebaliknya godaan datang berupa kemalasan dan keengganan untuk melakukan sesuatu yang baik bagi sesama; lalu hal ini membawa kita pada rasa kosong. Kosong karena hidup tidak kita isi dengan bijaksana.

Kita terbuai oleh godaan keserakahan, godaan mau enak. Sementara panggilan Tuhan untuk tetap setia mengikuti Yesus memanggul salibNya menentang mau menuju kemuliaan kita abaikan.

Jadi marilah kita buka mata hati, buka pintu cinta-kasih untuk menjadi tanah subur yang menerim dan memelihara benih gadum semaian Tuhan dalam hati kita, sehingga pada akhirnya kita menghasilkan buah berlimpah demi kemuliaan Allah dan tidak menjadi sia-sia dibakar dalam api.

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Selasa, 16 Januari 2024

Hari Biasa Pekan II Ekaristi harus disediakan bagi umat beriman, antara lain "sebagai penangkal, melaluinya kita dibebaskan dari kesalahan-kesalahan...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi