Berdoa Bukan Memaksa

  18 Oct 2013, 23:11

Beberapa waktu lalu hatiku begitu panas kayak kompor kelebihan bahan bakar membaca milis/majalah mengenai pembangunan gereja masih dihalangi oleh kelompok orang fanatik. Omelan saya akhirnya berbuntut kepada Tuhan yang tidak mau mendengarkan doa sekian ribu umat paroki yang rindu tempat iba­dah. "Tuhan itu gimana sih....masa umat dah doa selama 20 tahun masih belum terkabul. Nampaknya Tuhan kelelahan ngurusi korupsi di Indonesia sehingga lupa soal pembangunan sarana berdoa dan memuji...he...he..." Mendengar ocehan ini, sobat setiaku langsung menimpali, "Emangnya Tuhan bisa kamu sogok dengan doa?" Logikaku tetap ngeyel," Lalu apa gunanya berdoa kalau nggak dikabul­kan...?"

Kompor panasku bagaikan ter­siram air es ketika pada 7 September, Paus Fransiskus mengajak seluruh umat Katolik di dunia dan siapa saja yang berkenan untuk berdoa disertai pantang dan puasa demi perdamaian Suriah. Ajakan berdoa ini bukanlah mau menciptakan keajaiban atau "memaksa" Tuhan melainkan perwujudan iman Kristiani ajaran Yesus:

"....Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya?..." (bdk Luk 18: 1-8). Berdoa adalah memohon, dikabulkan atau tidak manusia BERSERAH kepada Tuhan. Berserah bukan putus asa, pasrah, apatis. Berserah adalah usaha disertai iman bahwa Tuhan menentukan hasil. Mungkin saja permohonan yang saya panjatkan belum waktunya dikabulkan. Atau Tuhan akan memberikan lain yang lebih baik dimana keterbatasan manusia belum bisa menangkap rencana-Nya. Bunda Maria selalu me-nyimpan dalam hatinya ketika merasa banyak misteri Tuhan yang belum mampu dipahami. Bahkan Yesus sendiri mempraktekkan doa Bapa Kami...Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga... Sehari menjelang penyaliban Yesus berdoa, "Ya, Bapa, jikalau sekiranya mungkin biar­lah piala ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kuhendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." Berserah bukan memaksa! Doa-Nya nampak tidak dikabulkan karena Yesus tetap disalib. "Kegagalan" doa Yesus ini ternyata mendapat ganti kasih Allah yang luar biasa. Yesus bangkit dari kematiannya untuk menebus semua dosa manusia.

Dalam suasana hari Raya Kurban yang merupakan simbol kurban materi dan moril dari saudara-saudara muslim. Marilah kita juga berdoa agar para pemimpin Indonesia yang menganut paham "Trias Polithieves" dimana Eksekutif, Legislatif maupun Yudikatif saling membantu mencuri (thieve) uang rakyat, muncul kesadarandalam diri mereka bahwa sebagai pemimpin dituntut KURBAN lahir dan batin demi kemakmuran rakyat Indonesia.

Maukah saya berdoa tulus bukan memaksa kepada Tuhan? Semoga.

(JA Gianto / Sie Katekese)

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Selasa, 16 Januari 2024

Hari Biasa Pekan II Ekaristi harus disediakan bagi umat beriman, antara lain "sebagai penangkal, melaluinya kita dibebaskan dari kesalahan-kesalahan...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi