Belajar Bijaksana Dari Orang Jahat

  23 Sep 2013, 21:29

Kalau kita meninggal, apakah yang akan kita bawa? Saya sering misa dalam rangka tutup peti. Yang dibawa orang mati tidak banyak: pakaian yang menempel di tubuhnya, kadang dikasih rosario dan/atau Kitab Suci. Orang-orang tertentu memasukkan semua pakaiannya ke dalam peti. Herannya, saya belum pernah melihat uang dimasukkan ke dalam peti, entah jumlahnya besar atau kecil. Mungkin kalau ada yang memasukkan uang bisa-bisa petinya terbuka lagi. Selain pakaian-pakaian itu, tidak ada apa-apa yang dibawa mati. Kita pulang ke rumah bapa dengan tangan kosong.

Injil hari ini bercerita tentang bendahara yang tidak jujur. Sang majikan menyuruh dia memberi pertanggung-jawaban atas kerugian yang dialaminya. Kemudian bendahara itu akan dipecat. Si bendahara bertanya dalam hati apa yang akan ia lakukan. Dia tidak bisa mencangkul. Dia malu mengemis. Lalu katanya, "Aku tahu apa yang akan kuperbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka." Kemudian ia mengurangi hutang orang-orang dengan membuat surat hutang palsu. Tuan yang akan memecat dia, sekarang malah memuji dia. Sangat aneh! Tetapi itulah hebatnya cerita-cerita Yesus.

Yesus memberi kesimpulan: anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang. Bendahara itu cerdik. Dalam keadaan terdesak, dia dengan bijaksana menemukan solusi yang tepat. Dia mengurangi hutang orang dengan tujuan supaya ada orang yang menampung dia di rumahnya. Yesus tidak membenarkan kecurangan bendahara itu. Sikap bijaksana bendahara itulah yang dipuji Yesus. Dia memikirkan persahabatan demi keselamatan dirinya. Yesus mengajak murid-murid-Nya belajar bijaksana dari bendahara yang tidak jujur itu. Yesus tidak segan-segan mengajak murid-murid-Nya belajar untuk menjadi bijaksana, bahkan dari orang jahat sekalipun.

Dari "orang jahat" itu Yesus mengajar para murid-Nya, "Ikatlah persahabatan dengan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi." Yesus mau berkata: Mamon tidak mungkin dapat kita bawa ke dalam hidup abadi. Seberapa kaya pun kita, semua harta itu tidak akan kita bawa mati. Yang bisa kita bawa ialah persahabatan. Persahabatan? Ya, persahabatan dengan Allah. Inilah harta surgawi. Persahabatan dengan Allah-lah yang bisa kita bawa sampai ke hidup abadi. Lain tidak!

Persahabatan degan Allah itu terjadi kalau kita mau berbagi dengan orang-orang miskin. Persahabatan dengan Allah itu terjadi kalau kita mau menggunakan mamon atau harta kita untuk menolong orang yang berkekurangan. Sikap Kristiani terhadap harta yang diajarkan Yesus ialah: menggunakan harta untuk menolong sesama yang miskin dan menderita. Kalau kita menggunakan harta kita untuk mengikat persahabatan dengan orang-orang miskin dan berkekurangan, kita menjalin persahabatan dengan Allah. Inilah harta surgawi yang dapat kita bawa ke dalam kemah abadi.

(Lamtarida Simbolon, O.Carm)

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Minggu, 3 Maret 2024

Hari Minggu Prapaskah III Wanita Samaria itu datang untuk percaya akan Yesus, yang menempatkan dia di hadapan kita sebagai lambang --- St. Agustinus...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi