Ketulusan Hati Santo Josef

 Ign. Sunito  |     23 Dec 2013, 16:05

Jelang Natal, gema kemeriahan sudah dirasakan di tempat - tempat publik seperti pusat perbelanjaan. Keceriaan terlihat dan terasa dari wajah Anak-anak. Terlebih bila bertemu Santa Claus. Namun jangan "lupa" bahwa Natal itu sebenarnya keheningan menyambut kelahiran Sang Juru Selamat. Ini mengingatkan penulis ketika suatu saat ada pendalaman iman di lingkungan Thomas 1, salah satu umat mengingatkan kita bahwa gereja - gereja di Jakarta banyak yang tidak mempunyai patung St. Josef sebagai penghormatan. Tidak seperti gereja-gereja di daerah terutama Jateng, Yogyakarta dan sekitarnya.

Teringat pula masa kecil penulis di Solo, bahwa ketika menjelang Natal para tetua selalu mengingatkan peran St. Josef sebagai bapa yang tulus hati. Menerima pesan Allah akan kandungan kekasihnya, bahwa bayi yang dikandung adalah karena kuasa Allah. Maka St.Josef tetap menerima Maria sebagaimana adanya dan tidak jadi meninggalkannya. Memang, peran St. Josef tak begitu menonjol pasca kelahiran Yesus. Namun bagi masyarakat Jawa, di mana faktor patriachat peran bapa sebagai kepala keluarga begitu dihormati. Tak heran, disetiap rumah keluarga Katolik pasti ada gambar maupun patung St.Josef. Kebiasaan ini penulis bawa di rumah tangga penulis.

Ketulusan Hati Santo Josef

Ketulusan hati menimbulkan cinta dan cinta keluarga kebetulan adalah salah satu topik pendalaman iman masa Advent bulan Desember ini. Intinya bagaimana kita bisa mencintai Allah kalau mencintai orang-orang terdekat kita saja tidak bisa? Terutama cinta orang tua terhadap anak dan timbal balik. Mereka yang pernah mengalami kelahiran anak pertama pasti sepakat merasakan suatu kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Kelahiran itu diibaratkan kekuatan mencintai. Begitu juga kelahiran Yesus Kristus adalah implementasi dari kecintaan Allah terhadap umatnya. Sambutan meriah kelahiran bukan membahana di istana-istana, melainkan bergema di antara para miskin, gembala di padang.

Berbicara tentang kemiskinan di negeri ini, bukan kemiskinan sumber daya manusia melainkan kemiskinan jiwa. Terutama terlihat pada diri para pemimpin-pemimpin kita yang lebih cinta kepada kekuasaan, uang (korupsi) katimbang kekuasaan untuk mencintai rakyatnya untuk dibikin sejahtera. Cinta memperoleh pemenuhannya bukan pada apa yang bisa kita dapatkan, melainkan pada apa yang bisa kita berikan. Banyak jalan untuk menggapai cinta. Dan kebetulan menjelang Natal ini kita dapatkan contoh cinta yang diberikan oleh St.Josef kepada Maria menyongsong kelahiran Yesus.

Di sekitar kita kebetulan tanggal 22 Desember adalah hari Ibu, tapi jangan lupa meski tidak ada Hari Bapak. Namun kita bisa seperti sekarang ini bukankah jasa bapak juga patut diperhitungkan. Selamat Natal 2013.

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Selasa, 16 Januari 2024

Hari Biasa Pekan II Ekaristi harus disediakan bagi umat beriman, antara lain "sebagai penangkal, melaluinya kita dibebaskan dari kesalahan-kesalahan...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi