Tidak Ada Natal!

 Romo Andreas Yudhi Wiyadi O.Carm  |     23 Dec 2016, 07:37

Warga di Kampung Cijengkol RT 01 RW 01, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, dibuat heboh setelah menemukan bayi baru lahir dan masih hidup diletakkan di teras rumah warga. Temuan itu pada Kamis (17/11) menjelang tengah malam. Kapolsek Setu, AKP Agus Rohmat mengatakan, pertama kali bayi laki-laki tersebut ditemukan oleh Udin (35). Awalnya, warga asal Brebes itu mendengar suara tangisan bayi dari rumah tetangganya, Hasanudin (40). "Setelah dicek ternyata ada seorang bayi di teras rumah. Saksi kemudian berteriak memberitahukan kepada warga lain," kata Agus, Jumat (18/11), merdeka.com.

Tidak Ada Natal!

Berita bayi dibuang semacam ini semakin marak saja. Ada berita bayi dibuang di sawah, di trotoar bahkan ada yang dibuang di tempat sampah. Padahal Allah tidak pernah menciptakan sampah. Allah menciptakan manusia. Bayi itu ada yang diketemukan masih hidup tapi banyak juga yang sudah tewas. Tragis! Hewan saja tidak pernah membuang anak yang dilahirkannya. Manusia malah melakukannya. Aneh tapi nyata. Ngeri!

Nah, sekarang apa yang menjadi perasaan Anda ketika mendengar berita semacam itu? Pertanyaan ini layak dilontarkan bukan sekedar menyentil tapi menghidupkan perasaan kemanusiaan. Jangan-jangan perasaan kemanusiaan ini telah tumpul bahkan mati. Berita ada bayi dibuang tidak meresonansi hati lagi. Karena berita serupa sudah jamak.

Orang bisa saja menyikapinya secara apatis karena peristiwa yang lebih sadis lagi tragis yakni aborsi alias pengguguram menyeruak di mana-mana. Kita hanya bisa bertanya, akan menjadi apa kehidupan ke depan bila perasaan kemanusiaan ini telah mati?

Di tengah krisis kemanusiaan seperti ini kita merenungkan Natal 2016. Bahkan adakah Natal itu? Kita pastikan tidak ada Natal bila kelahiran Yesus Kristus tidak menjadi landasan dan spiritualitasnya. Jauh dari pesan ini berarti semakin jauhlah bahkan kosong makna Natal. Itu berarti sia-sia belaka.

Orang-orang sekarang sebagian besar sudah disorientasi. Mereka merayakan Natal sebagai rutinitas, pesta di mal, hotel, rumah makan, belanja barang-barang mewah karena gelegak super discount, tukar kado gadget terbaru, atau merayakannya dalam kebaktian misa semata. Setelah itu selesai. Natal hampir pasti telah kehilangan makna hakikinya. Natal telah menjadi ritual tahunan yang hanya menjadi ajang bisnis besar-besaran. Sebenarnya tidak lebih dari itu kendati dibungkus dengan nilai-nilai religius.

Tak ayal lagi, setelah merayakan Natal orang menjadi pucat pasi karena kelelahan. Kantong dan dompet kosong mlompong. Bahkan orang bisa saja menjadi semakin egois dan serakah jauh dari murah hati. Tidak ada berkah Natal. Yang ada kegilaan Natal. Karena sebenarnya hatinya tidak mengalami perjumpaan dengan Yesus yang lahir. Yesus tidak lahir di hatinya. Itu berarti tidak ada Natal.

Orang yang merayakan Natal sejati adalah orang-orang yang dengan penuh iman menyambut Yesus yang lahir sebagai sang juruselamatnya seperti kesaksian beberapa anak manusia ini. Bila zaman Yesus mereka itu para gembala. Tanpa harus menyebutkan nama. Tetapi kita mendapat inspirasi. Dari hidup penuh kegelapan menuju terang Tuhan. Bukankah itu Natal? (baca: orang lahir dalam kerohanian).

Tutur mereka, dulu saya adalah seorang pemabuk dan penjudi tapi sekarang sudah tidak lagi. Dulu saya penakut dan terlalu kuatir tetapi sekarang saya lebih berserah. Saya dulu bersikap kasar terhadap istri dan anak-anak tetapi sekarang saya memperlakukan mereka dengan baik. Dulu saya orang yang cepat marah dan tidak sabaran tetapi sekarang saya lebih bisa menahan diri. Dulu saya tidak peduli pada orang lain tetapi sekarang saya lebih membuka mata dan peka bagi kebutuhan orang lain. Saya dulu suka gosip dan membicarakan kejelekan orang lain. Tetapi sekarang saya lebih berhati-hati dalam berbicara. Dulu saya sulit sekali untuk bisa mengampuni orang yang menyakiti hati saya. Puji Tuhan sekarang sudah bisa mengampuni. Dan seterusnya.

Demi perubahan-perubahan seperti itulah Tuhan Yesus datang ke dalam dunia. Yesus datang bagai pedang bermata dua. Di satu sisi kelahiran-Nya membawa kritik sosial dan kemanusiaan tetapi di lain sisi membawa pesan solidaritas bagi orang-orang yang tidak diperhitungkan.

Betapa tidak! Orang yang merayakan Natal dengan imannya akan mengetahui bahwa kelahiran Yesus itu melawan lupa. Manusia itu mudah dan angkuh terhadap panggilan kehidupan ini. Hari gini ketika masih ada bayi yang dibuang bahkan diaborsi merupakan tamparan iman. Kita mengimani Yesus datang membawa kehidupan bukan kematian. Tetapi mengapa manusia tetap bertekun dalam budaya kematian?

Selain itu, tetap harus didengungkan pula bahwa Natal Yesus itu membawa pesan solidaritas bagi manusia-manusia ringkih lagi rentan. Bahkan orang-orang yang terpinggirkan. Yesus mengalami proses hidup seperti itu.

Palungan menjadi simbol bahwa tidak ada tempat bagi Yesus. Ia menjadi orang yang tidak dihargai. Akankah sampai sekarang palungan itu tetap ada untuk Dia? Bila kita mau jujur palungan-palungan itu semakin menjamur. Karena banyak orang-orang kalah. Wajah Yesus hadir di situ. Mereka kalah dalam kompetisi teknologi, ekonomi, pendidikan dan dengan demikian menjadi miskin dalam arti yang sebenar-benarnya. Kesempatan dan akses untuk mencapai pusat dan sumber ekonomi bagi mereka menjadi sempit. Tak ayal hidupnya semakin terjepit dan menjerit.

Saya pribadi sangat senang dan memberikan apresiasi dengan tema Bulan Keluarga tahun 2016 ini yakni Sekolah Kehidupanku. Kita diajak untuk belajar menjadi cerdas dan bijaksana. Tempat belajar kita yang utama itu adalah keluarga Anda. Keluarga harus menjadi tempat utama nilai-nilai kehidupan ditanamkan melalui pengasuhan. Setiap anggota keluarga bisa bertumbuh secara positif pada diri sendiri, keluarga, sesama, alam lingkungan sekitar dan bahkan bangsanya sendiri. Dengan ikhtiar luhur ini diharapkan mendorong umat beriman sebagai agen perubahan menuju kehidupan semakin adil dan semakin beradab. Tidak ada lagi manusia yang tertindas dan dikorbankan. Betapa indahnya.

Oleh karena itu Natal pada akhirnya sebagai pesta keluarga beriman. Yang utama Natal itu tidak harus wah dan meriah. Natal sejati itu justru mengacu pada kesederhaan. Karena Yesus memang lahir dalam kesederhanaan bahkan kekosongan diri (kenosis). Kita tidak perlu merasa sedih atau bersalah bila pernak-pernik, hiasan-hiasan Natal kita tidak terkesan glamour. Ini semua adalah bungkus, ornamen saja. Tetapi yang terpenting Anda telah mendapatkan dan menenui Yesus yang lahir di hatimu. Itu lebih dari cukup dari segala yang ada.

Akhirnya saya mengulangi pesan indah ini, 'Hari Ini Telah Lahir Bagimu Juruselamat, Yaitu Kristus, Tuhan di Kota Daud' (Lukas 2:11).

Makan ketupan dengan sambal. Pada seluruh umat saya mengucapkan selamat merayakan Natal. Shalom.

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Minggu, 28 November 2021

Hari Minggu Adven I Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi