Jika Ingin Berdoa Kita Harus Berdosa Dahulu

  25 Oct 2013, 15:11

Aneka problema doa:

Banyak orang bingung dan mempersoalkan aneka hal yang terkait dengan doa misalnya; pakaian­nya yang sesuai bagaimana? Kata-kata yang digunakan yang sopan, halus, puitis, indah, atau biblis atau disusun sendiri atau bagaimana? Sikap tubuh: berdiri, duduk, berlutut, mata melek atau memejam atau bagaimana? Apa saja yang seharusnya kita bawa dalam doa, buku doa, Rosario atau apa? Frekuensi doa kita: PERNAH BERDOA, KADANG BERDOA, SERING BERDOA, SELALU BERDOA. Mana yang penting? Soal frekuensi doa atau perbuatan baik dalam hidup walau doa sedikit bahkan tidak berdoa?

Berdoa dengan Tidak jemu-jemu dan Iman:

Yesus memperhatikan hal yang lebih hakiki tentang doa. Injil minggu lalu dan minggu ini berbicara tentang berdoa. Minggu lalu kita diajak berdoa dengan tidak jemu-jemu, siang malam berdoa kepada Allah dan mendasari doa dengan iman.

Berdoa dengan Kerendahan hati dan Penyerahan Diri:

Dalam Injil Minggu ini kita diajak merenungkan prasyarat lain dari doa yakni kejujuran dan kerendahan hati, terma­suk kesadaran dan keberanian mengakui keberdosaan kita. Maka Judul renungan ini jangan disalah mengerti. "Jika Ingin Berdoa Kita Harus Berdosa Dahulu" bukan berarti kalau kita mau berdoa kita rame-rame melakukan perbuatan dosa terlebih dahulu. Kalau itu yang terjadi justru merupakan kesombongan seolah kita merasa tidak memiliki dosa. Orang Farisi merasa doanya akan berkenan karena ia memiliki segala prestasi dan kesalehan hidup. Ia merasa lebih hebat dibanding si pemungut cukai dengan berkata, "aku tidak seperti pemungut cukai ini". Kesombongan rohani sema­cam ini ternyata juga tidak dibenarkan dan tidak berkenan di hadapan Allah. Allah menghendaki kerendahan hati, yang merupakan unsur hakiki yang harus ada dalam doa.

Harus Berdosa:

Kata "harus berdosa" bukan berarti melakukan dosa terlebih dahulu, melainkan kesadaran dan keberanian mengakui bahwa kita orang yang lemah, rapuh dan berdosa. Sikap ini hanya mungkin lahir dari kejujuran dan kerendahan hati. Sikap inilah yang ditunjukkan oleh si pemungut cukai di Bait Allah. Maju ke posisi bagian depan atau menengadah saja ia merasa tidak layak, melihat dirinya dan memban-dingkan dengan Allah ia sungguh merasa tidak pantas, dirinya kotor, dosa dan tidak memiliki sesuatu yang patut dibanggakan di hadapan Allah. Maka ia hanya bisa berkata, "Ya Tuhan, ampunilah aku orang berdosa ini!" Kalimat pendek itu mengandung semangat dan sikap doa yang sangat mendalam yakni: kejujuran, kerenda­han hati, kesadaran dan keberanian mengakui dirinya berdosa. Sekaligus di dalamnya terkandung sebuah sikap penyerahan diri dan kebergantungan kepada kebijaksanaan Allah. Ia menyadari bahwa dirinya hanya akan hidup kalau mendapat pengampunan dan belas kasih Allah.

Pertanyaan Refletif:

Apakah kita berdoa dengan tidak jemu-jemu dan dengan penuh iman? Apakah kita cukup jujur, rendah hati, sadar dan berani mengakui keberdosaan kita? Apakah kita memiliki sikap penyerahan diri kepada kerahiman dan kebijaksa­naan Allah? Atau sebaliknya hati kita menyombongkan dan membanggakan akan segala kebaikan dan prestasi rohani kita?

(Rm. Heribertus S., O.Carm)

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Selasa, 16 Januari 2024

Hari Biasa Pekan II Ekaristi harus disediakan bagi umat beriman, antara lain "sebagai penangkal, melaluinya kita dibebaskan dari kesalahan-kesalahan...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi