Hati Yesus yang Penuh Kasih Menguduskan Hati Manusia

 Gregorius Jeffrey OCarm  |     1 Jul 2014, 23:25

Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu. Inilah pepatah yang berusaha mengingatkan kita untuk tetap sadar dalam berelasi dengan orang lain. Di bibir orang lain bisa mengatakan cinta dan sayang kepada kita, tetapi benarkah hatinya memang demikian? Kita juga bisa mengucapkan kasih, namun benarkah aku sungguh mengasihi atau hanya kasih sebatas bibir? Alangkah indahnya dunia jika setiap orang bisa mengatakan sayang kepada orang lain dan dalam hatinya tidak ada kebohongan. Musa mengatakan bahwa umat Israel adalah umat yang kudus bagi Tuhan. Umat Israel dipilih Tuhan "untuk menjadi umat kesayanganNya" (Ul 7:6). Hati Tuhan terpikat pada Israel karena Yang Mahatinggi adalah Kasih (1 Yoh 4:8) dan Israel adalah "yang paling kecil dari segala bangsa" (Ul 7:7). Sang Mahakuasa itu setia. "Ia memegang perjanjian dan kasih setiaNya terhadap orang yang kasih kepadaNya dan berpegang pada perintahNya sampai kepada beribu-ribu keturunan" (Ul 7:9). Maka setiap orang yang berikrar, berkaul atau berjanji haruslah tahu bagaimana jujur dan setia artinya tidak mempermainkan kaul atau perjanjian itu. Itulah kualitas kasih yang sesungguhnya. Hati tidak bisa berbohong dan setiap tindakan bohong adalah dosa karena melawan kodrat kasih. Hati-hati dengan janji. Jangan janji tinggal janji.

Rasul Yohanes mengajak pengikut Yesus untuk juga "saling mengasihi sebab kasih itu berasal dari Allah dan setiap orang yang mengasihi lahir dari Allah dan mengenal Allah" (1 Yoh 4:7). Mengasihi itu tindakan yang timbul dari dalam hati yang telah mengalami kasih Allah. Setiap orang memiliki pengalaman dikasihi oleh Yang Mahatinggi, namun belum tentu semuanya disadari. Maka Yohanes mengingatkan bahwa "Allahlah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus AnakNya sebagai silih bagi dosa-dosa kita" (1 Yoh 4:10). Allah memiliki hati yang Mahakudus dan itu hadir di dunia dalam rupa Yesus Kristus. Hati Allah Tritunggal tercermin dalam hati Yesus yang mau menguduskan kita kembali sehingga relasi kita dengan Tuhan, sesama dan diri sendiri menjadi sempurna (ay. 12). Hati Yesus Yang Mahakudus memperbarui dan menyempurnakan Perjanjian Lama antara Yahweh dan bangsa Israel sehingga tiada lagi darah kurban baik hewan atau manusia. Perjanjian Baru bagi orang Katolik adalah Allah yang tidak lagi menuntut balas melainkan Yesus Kristus yang terus menerus menyelamatkan dunia dengan kasihNya yang tak terhingga. Ia memberikan kelegaan bagi "yang letih lesu dan berbeban berat" (Mat 11:28). Misteri Kerajaan Allah terletak dalam diri Yesus yang "lemah lembut dan rendah hati" (Mat 11:29). Ia ingin menenangkan hati manusia yang sering salah pilih dan salah memutuskan karena godaan keduniawian (bdk. Mrk 7:20-23). Hati Yesus yang Mahakudus akan membuat kita tenang dan dewasa dalam setiap pilihan dan keputusan agar kita tidak hidup dalam penyesalan dan kekecewaan.

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Selasa, 16 Januari 2024

Hari Biasa Pekan II Ekaristi harus disediakan bagi umat beriman, antara lain "sebagai penangkal, melaluinya kita dibebaskan dari kesalahan-kesalahan...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi