Menyongsong Indonesia Baru

 Ign. Sunito  |     2 Sep 2014, 09:58

Setahun terakhir ini penulis sering bepergian naik KA, bukan saja untuk mendapat potongan harga 20 prosen bagi pemegang KTP seumur hidup untuk KA eksekutif. Lebih dari itu ada rasa nyaman karena melihat stasiun di mana saja bersih, teratur, tertib, bebas pedagang asongan, bebas calo dsb. Bahkan KA ekonomi pun kini ber-AC, juga KRL Jabodetabek dan ibaratnya PT KAI itu kini sangat nguwongke memanusiakan penumpang. Sebelumnya lihat saja perkeretapian kita ini begitu amburadul, bagi penulis jika bepergian naik KA itu pilihan terakhir. Siapa gerangan yang membuat perobahan radikal itu? Semua orang sudah tahu bagaimana sepak terjang seorang Ignasius Jonan.

Kini banyak "Ignasius-Ignasius Jonan" serupa tak sama yang tercermin pada kepala-kepala daerah baru. Sebut saja seperti Tri Rismaharini (Surabaya), dan kini ada Abdullah Azwar Anas (Banyuwangi) yang mengantarkan kotanya meraih predikat kota WELAS ASIH. Compassionete city yang diberikan oleh lembaga Compassion Action International, lembaga yang digerakkan oleh tokoh-tokoh masyarakat dan agama dunia. Banyuwangi terasa betul sebagai kota yang mendukung kebhinekaan, humanis, dan rasa kasih sayang di antara warganya. Semua itu tercermin dalam program pemda yang sudah berjalan yang menitik beratkan pro rakyat. Kebijakan publik berbasis kemanusiaan.

PT KAI, Surabaya, dan Banyuwangi hanya salah satu contoh betapa semula amburadulnya situasi di sana. Ibaratnya sulit dan dari mana kalau ingin diperbaiki? Penulis boleh subyektif bahwa kota Solo di bawah Joko Wi sejak 2005 sudah memeloporinya terlebih dahulu menyabet gelar-gelar serupa sampai menjadi Walikota Terbaik Dunia. Kota Solo dibawah FX Hadi Rudiyatmo kini masuk nominasi untuk dikategorikan Kota Cerdas oleh lembaga Eastern Regional Organization for Planning Human Settlements EAROPH, yang pekan lalu berkongres ke-24 di Jakarta.

Dari contoh-contoh yang dipelopori dari "bawah" itu rasanya akan bersemi lebih luas karena NKRI kini mendapatkan pemimpin presiden ke-7, yang mempunyai latar belakang kuat kerakyatan. Terpilihnya JKW menggarisbawahi kehendak dan kebutuhan rakyat Indonesia akan pemimpin yang tidak saja melahirkan gagasan besar dari dirinya sendiri, tetapi juga pemimpin yang secara langsung mengalami hidup rakyat, berada dalam pusaran kehidupan rakyat, merasakan hidup rakyat, mendengarkan suara rakyat. Dan semua itu lalu menjadi mengerti rakyat dengan segala kehendak dan kebutuhannya.

Munculnya tokoh-tokoh muda pro rakyat ini pasti menjalankan apa yang dinamakan " Revolusi Mental " melalui perjuangan berat. Pelecehan telebih dahulu. Mereka berada dalam jalinan "benang merah" yang sama, yaitu adalah bibit unggul dalam jenis-jenis kecerdasan yang selama ini tidak mendapat nilai yang penting dalam dunia akademik formal. Dan tidak bisa ditakar melalui proses akademik formal, karena mereka melebur langsung dalam keseluruhan pengalaman kehidupan sehari-hari manusia.

Ini semua bagi kita umat Katolik, kita lihat sebagai pembelajaran diri untuk juga melakukan Revolusi Mental. Paling tidak mulai dari diri kita sendiri.

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Selasa, 16 Januari 2024

Hari Biasa Pekan II Ekaristi harus disediakan bagi umat beriman, antara lain "sebagai penangkal, melaluinya kita dibebaskan dari kesalahan-kesalahan...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi