Kebangkitan Orang Mati

 Yeremias Jena  |     6 May 2017, 14:32

Orang Katolik percaya pada kebangkitan orang mati dan kehidupan kekal. Mereka menyatakan secara tegas dalam Kredo, "Aku percaya pada... kebangkitan badan dan kehidupan kekal." Apakah makna kebangkitan orang mati dan kehidupan kekal itu? Refleksi teologis akan menjawab pertanyaan ini.

Tampaknya kita baru menyadari makna ungkapan iman itu ketika berhadapan dengan kematian orang-orang yang sangat kita sayangi. Menghadapi peristiwa itu, kita menggugat Tuhan, "Apakah benar ada kehidupan setelah kematian?" "Apakah kita akan bertemu lagi dengan orang-orang yang kita cintai?"

Orang Katolik memang percaya pada kebangkitan badan dan kehidupan kekal yang telah dipersiapkan Allah bagi setiap orang yang percaya pada-Nya, setiap individu, satu per satu. Keyakinan ini dibangun di atas pondasi iman yang tak-tergoyahkan, yakni kebangkitan Yesus Kristus dari kematian-Nya. Inilah dasar kokoh iman Kristiani.

Pemahaman yang paling lengkap dan signifikan mengenai hakikat kebangkitan dapat kita baca dalam Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus (bab 15). Pada ayat 12 dikatakan: "Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati?" Ayat 16: "Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan."

Apa yang Paulus lakukan adalah sebuah pembalikan teologi, sebuah terminologi teologis yang menegaskan bahwa pandangan mengenai siapa Yesus tidak saja didasarkan pada Yesus historis, tetapi juga pada pengalaman Gereja yang kemudian dimaknakan dengan merujuknya pada Kristus historis tersebut. Paulus dalam Suratnya itu menegaskan bahwa kebangkitan orang mati tidak hanya didasarkan pada kebangkitan Yesus; kebangkitan Kristus juga tergantung pada kebangkitan orang mati.

Paulus menegaskan sikap imannya yang menjadi sangat terkenal dalam Perjanjian Baru: "Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu" (ay. 14). "Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu" (ay. 17).

Kita harus lebih berhati-hati untuk tidak mencampur-aduk distingsi teologi Paulus antara 'daging' dan 'roh' (lih. Rom 8:1-13) dengan distingsi yang berasal dari tradisi Yunani yang membedakan antara 'tubuh' dan 'jiwa'. Ini penting untuk memahami makna kebangkitan tubuh/badan dan jiwa; bahwa yang mengalami kehidupan kekal bukan hanya jiwa tetapi juga badan yang terlebih dahulu diubah oleh kebangkitan itu sendiri.

Sebagai pribadi, manusia tidak sekadar punya 'jiwa' yang kemudian diselamatkan Allah dan diangkat kepada kehidupan yang baru. Kisah-kisah kebangkitan menegaskan tidak hanya aspek tubuh (badan/materi), tetapi juga transformasi tubuh Yesus yang bangkit tersebut. Misalnya, setelah kebangkitan, para murid bahkan tidak mengenal Yesus pertama kali Dia menampakkan diri-Nya (Luk 24: 16).

Paulus kemudian menyimpulkan, bahwa Allah yang telah menganugerahi kita dengan tubuh dalam kebersatuannya dengan jiwa selama kehidupan, akan mengubah tubuh yang sama supaya sesuai atau cocok dengan kehidupan baru di dalam Kerajaan-Nya (lih 1Kor 15:42-50). Meskipun begitu, kita tetap tidak tahu bagaimana persisnya hal ini akan terjadi? (lih. John R. Sachs, "resurrection of the body," The HarperCollins Encyclopedia of Catholicism, Richard P. McBrien, editor utama, HarperSanFrancisco, 1995, hlm. 1111).

Menurut Pastor Sachs, umat Kristen pada zaman Paulus memang percaya bahwa kedatangan kedua Tuhan Yesus akan segera terwujud. Pengharapan ini justru menimbulkan pertanyaan tentang nasib saudara-saudara mereka yang sudah meninggal.

Tulisan-tulisan Perjanjian Baru kemudian memberikan suatu keyakinan bahwa orang yang sudah meninggal pasti telah bersama Allah. Tetapi teologi Kristen setelah itu justru terpusat pada distingsi antara badan/jiwa yang diwariskan dari filsafat Yunani.

Manusia sebagai diri/pribadi (human self), yang tetap hidup setelah kematian berkat 'jiwa', akan menunggu pengadilan terakhir sebelum jiwanya dipersatukan kembali dengan tubuhnya. Pemahaman ini lahir karena pengaruh filsafat Yunani yang membedakan antara 'tubuh' dan 'jiwa'. Pengaruh ini dapat kita lihat, misalnya dalam Konsili Lateran IV (1215), Konsili Lyon II (1274), Konsili Viena (1312), dan Konsili Florence (1439).

Pada tahun 1979, Kongregasi Ajaran Iman menegaskan bahwa meskipun Konsili Vatikan II, terutama dokumen Gaudium et Spes menggarisbawahi pembedaan tubuh/jiwa, harus diingat bahwa, 'Manusia selaku persona, meskipun terdiri dari badan dan jiwa, tetap merupakan sebuah kesatuan'.

Menurut Pater Sachs, tubuh itu penting karena menyimbolkan hubungan manusia dengan orang lain dan dengan bumi. Itulah sebabnya Sachs kemudian menegaskan bahwa 'tidak akan ada keselamatan tanpa tubuh, tanpa komunitas, dan tanpa dunia'.

Tentang kapan persisnya (the time) akan terjadi kebangkitan orang mati terus menjadi perdebatan. Ada dua kubu dalam perdebatan ini. Kubu pertama diwakili Karl Rahner, SJ dan kubu lainnya oleh Joseph Ratzinger atau Paus Benediktus XVI.

Bagi Rahner, kebangkitan orang mati akan segera terjadi pada saat orang itu meninggal dunia. Ratzinger berpendapat sebaliknya. Bagi dia, kebangkitan orang mati baru akan terjadi pada hari kiamat, saat semua manusia menghadapi pengadilan terakhir.

Apapun perdebatannya, kita akan tetap percaya pada 'kebangkitan orang mati dan kehidupan kekal yang akan datang'.

(diolah dari tulisan P. Richard McBrien, National Catholic Reporter Online, 23 Mei 2011)

Lihat Juga:

Seputar MBK (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Selasa, 10 Desember 2019

Hari Biasa Pekan II Adven Makhluk ciptaan keluar dari tangan Allah yang dibuka dengan kunci cinta. (St. Thomas Aquinas)...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi