Cinta dan Pengorbanan dalam Rumah Tangga

 Berlianto-Daisy  |     29 Apr 2017, 12:21

Mengapa orang menikah? Karena mereka jatuh cinta. Mengapa jatuh cinta gampang? Karena saat itu orang lebih banyak melihat sisi positif dari pasangannya. Tapi saat memasuki pernikahan, tidak ada yang bisa ditutupi lagi. Dengan interaksi 24 jam per hari, 7 hari seminggu, semua kebiasaan buruk pun tersingkap.

Mengapa dalam perjalanan kehidupan rumah tangga, ada keluarga yang bahagia dan ada keluarga yang merasa tidak bahagia? Apakah mereka bahagia karena selalu jatuh cinta? Apakah mereka tidak bahagia karena kehilangan cinta? Bukan, tapi mereka bahagia karena terus membangun cinta. Jatuh cinta itu gampang karena jatuh cinta dalam keadaan menyukai. Tapi membangun cinta itu susah sekali, perlu dilakukan seumur hidup. Dalam keadaan jengkel, cinta bukan lagi berwujud pelukan, melainkan berbentuk itikad baik untuk mencari solusi atas persoalan itu.

Syarat untuk keberhasilan pembicaraan antara lain adalah pasangan harus saling mengerti sehingga dapat memahami dan menghargai perasaan serta memperhatikan situasi saat itu. Cari waktu dan suasana yang mendukung untuk berdialog, paling baik diawali dengan doa. Jika suami istri hanya memperhatikan perasaan sendiri, mereka akan saling melukai. Jika dibiarkan berlarut, mereka bisa saling memusuhi dan rumah tangga sudah berubah bukan surga lagi tapi neraka. Padahal tujuan pernikahan adalah ingin mencari teman hidup, bukan musuh hidup.

Mencari teman hidup memang dimulai dengan jatuh cinta. Tetapi sesudahnya, porsi terbesar adalah membangun cinta. Cinta yang dipahami dengan benar tidak pernah menimbulkan korban. Orang yang paham cinta akan memberi, berani berkurban bagi orang lain dan bukan menjadikan orang lain sebagai korban. Dalam relasi rumah tangga, pilihan ideal adalah jangan sampai ada korban dari cinta, entah dirinya atau pasangannya. Tetapi seringkali yang terjadi adalah sebaliknya, suami dan istri saling menuntut pasangannya untuk berkurban bagi dirinya. Akibatnya ada pihak yang terlukai, tersakiti dan terpuruk.

Apakah kondisi ini bisa diperbaiki? Tentu saja bisa. Pasutri harus mendekatkan diri dengan Tuhan. Semakin dekat dengan Tuhan, orang akan semakin punya kasih pada sesama. Orang yang memiliki passion of Christ akan lebih mengasihi pasangannya. Saat mengasihi pasangannya, dalam dirinya akan tumbuh keberanian untuk berkurban dan mengubah diri sendiri demi pasangannya.

Pilihan ideal adalah jangan sampai ada korban dalam relasi berumah tangga. Bagaimana keharmonisan dalam rumah tangga dapat terus dipelihara, pada dasarnya adalah bagaimana cara berkomunikasi antar suami istri. Bagaimana cara berkomunikasi antar suami istri agar terbentuk relasi yang lebih baik dan bahagia? Dapat dipelajari dengan mengikuti Weekend Marriage Encounter. Paroki MBK akan mengadakan Weekeend Marriage Encounter khusus untuk umat MBK pada tanggal 29 September s.d 1 Oktober 2017. Bagi pasutri yang ingin relasi dalam rumah tangganya menjadi lebih baik lagi, sangat dianjurkan untuk mengikuti Weekend ini. Marilah kita bersama-sama mewujudkan gereja-gereja kecil yang lebih baik sebagai wujud belas kasih kita atas rahmat yang dianugerahkan Tuhan dalam rumah tangga kita.

Lihat Juga:

Seputar MBK (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Jumat, 7 Agustus 2020

Hari Biasa Pekan XVIII (Jumat Pertama Dalam Bulan) "Jiwa, yang telah dipersatukan dan diubah dalam Allah, bernapas di dalam Allah dengan pernapasan...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi