Jangan Jadi Orang Berpunya Dulu Baru Percaya

  27 Oct 2010, 22:09

Begitu mudah kita melafalkan "Aku percaya" sebagai ungkapan iman kita dalam setiap misa. Tetapi sayang sekali, pada sebagian diantara kita kata "percaya"dan iman kehilangan maknanya yang sejati. "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibrani 11: 1). Iman adalah semata-mata kepercayaan, penyerahan dan kesetiaan pada Tuhan dan janji-janji-Nya.

Jangan Jadi Orang Berpunya Dulu Baru Percaya

Dalam kehidupan nyata sehari-hari kita percaya karena melihat sendiri buktinya. Namun banyak hal juga kita percaya karena orang tua, guru, teman atau seseorang memberitahu kita. Apakah tak memberikan kesempatan iman ini berkarya dalam seluruh kehi-dupan kita cermin bahwa kita percaya bahwa Tuhan beserta kita karena kita adalah putra/putri Allah? Setidaknya Petrus mencoba berjalan diatas air menemui Yesus, tetapi kita sering seperti murid-murid lain terpaku di perahu. Kehidupan mengandalkan kekuatan sendiri. Ditimpa kesulitan dan masalah seperti Habakuk kita berteriak: "Berapa lama lagi, Tuhan, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: "Penindasan" tetapi tidak Kautolong?" (Habakuk 1: 1).

Saat krisis, kita tidak memperbaiki relasi dengan Tuhan tetapi memusatkan perhatian pada krisis. Seperti para rasul, kita umumnya mohon bantuan Tuhan dan peningkatan iman kepercayaan kita (Lukas 17: 5). Jawab Yesus: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu." (Lukas 17: 6).

Kita acap melupakan semua rahmat iman yang telah diberikan dan kita miliki. Berikan pada Tuhan semua usaha terbaik yang dapat kita lakukan dan berkat Tuhan akan mengalir pada kita. Ditengah pencobaan, kita bahkan acap melupakan Gereja, Tubuh mistik Kristus, kepada siapa Tuhan telah berjanji bersamanya hingga akhir jaman. Seperti nasihat Paulus kepada Timotius, kita harus melihat dan menyadari seluruh rahmat yang telah diberikan Tuhan agar berkat iman, kita tidak takut menghadapi kesulitan dan mengobarkan karunia Allah yang ada pada kita (bdk. 2 Tim. 1: 6). Ketika Blondin pada 1980 menyatakan bahwa ia mampu berjalan di atas arung Niagara pada seutas tali, bahkan dengan menggendong seseorang, seluruh pemirsanya menyatakan percaya, tetapi ketika ia minta sukarelawan yang bersedia digendong untuk membuktikannya, tak ada yang bersedia.

Itulah juga sering "kepercayaan" kita pada Tuhan. Seperti orang Yahudi kita merasa diberkati bila berpunya dan dibantu dalam kesulitan. Padahal Yesus mengajarkan agar kita memiliki pengalaman kerendahan hati untuk menyerahkan diri bagai anak kecil pada bapanya. Apapun yang dipunyai dan diterima di dunia termasuk masalah hendaknya disyukuri untuk membantu kita mendekati Tuhan dan membawa dunia pada Sang Kristus. Inilah disposisi batin "percaya dan iman" yang harus kita miliki. Bahkan para santo/santa pun pernah mengalami masa masa "kegelapan".

Di pintu kayu kamarnya Santa Theresia Lisieux menulis: "Yesus adalah cinta sejati-ku" bukan saat gembira, namun saat ia hampir putus asa, menangis pada "Cintanya" saat merasakan kesepian, kegelapan, kehampaan merasa ditinggalkan, tetapi ia tetap percaya setia bertahan pada janji kasih Yesus. Ibu Teresa dari Calcutta juga pernah mengalami pengalaman serupa. Yang dirahmati Tuhan adalah orang yang masih dapat bersyukur dalam situasi seperti ini, demikian kata Suster Faustina Kowalski (BCH 103 dst). Ini juga iman dan teladan yang diberikan Bunda Maria.

Percaya keutamaan kasih yang tak bersedia melukai hati orang Yahudi yang menolak didirikannya tempat doa untuk orang-orang yang meninggal akibat Holocaust di area kamp Auschwitz, Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1993 memerintahkan suster-suster Karmelit merelokasinya. Bagaimana dengan usaha keras memaksakan pendirian tempat ibadah di Ground Zero September 11 atas nama toleransi, sekalipun telah memiliki tempat ibadah serupa di kota yang sama sebanyak dua kali jumlah gereja Katolik Jakarta setelah 200 tahun?

Semoga percaya bahwa kasih Allah sela-lu memberikan yang terbaik, kita senantiasa melibatkan kasih Tuhan dalam setiap karya dan masalah kehidupan yang kita syukuri agar layak akan rahmat-Nya.

(Ansano Widagdyo - Ratu Damai IV)

Lihat Juga:

Serba-Serbi (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Selasa, 16 Januari 2024

Hari Biasa Pekan II Ekaristi harus disediakan bagi umat beriman, antara lain "sebagai penangkal, melaluinya kita dibebaskan dari kesalahan-kesalahan...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi