Ngelirik Dirigen Yuk !

  27 Oct 2010, 22:33

Soal melihat atau memandang. Katanya, orang bule merasa sopan apabila memandang wajah/mata lawan bicara. Tetapi kalau bercakap-cakap dengan orang Jawa jangan banyak-banyak menatap matanya, apalagi lawan bicara berstatus lebih tinggi.

Ngelirik Dirigen Yuk !

Sebaliknya, dengan orang Batak atau Timor, lihatlah mata-nya kalau berbicara, supaya dianggap sopan. Ternyata, dalam observasi spontan kecil-kecilan, orang-orang di Kupang dan tempat-tempat lain di NTT terutama orang-orang desa masih banyak yang tidak menatap mata lawan bicara yang dianggap berstatus lebih tinggi.

Di masyarakat Paroki MBK bagaimana? Rasanya di sini sudah umum berlaku komunikasi tatap mata, dalam arti harafiah. Artinya, berbicara sambil bertatapan mata dengan orang berstatus lebih tinggipun sudah umum dan biasa - entah dalam pergaulan sehari-hari, dalam rapat-rapat atau di pertemuan pendalaman iman dan lain-lain. Bukan hal baru untuk masyarakat perkotaan, sudah jadi "norma standar".

Ngelirik Dirigen Yuk !

Pertanyaan: Kenapa anggota koor tidak melihat dirigen ketika bernyanyi dalam misa? Observasi spontan, di misa MBK hanya 15-20 persen anggota paduan suara secara teratur melihat dirigen (yang memberi aba-aba dan mengatur birama/irama lagu).

Kenapa begitu? Ada yang bilang karena masalah kacamata dan lagu sulit (baru). Tetapi ternyata, ketika menyanyikan lagu-lagu yang sudah sangat umum, mudah dan bahkan sudah hafal, juga tidak angkat muka (secara teratur) dan lihat dirigen. Tetap saja tunduk/terpaku pada teks lagu. Jadi, kenapa ya?

Melihat dirigen tidak mesti "mempelototinya" terus menerus. Cukuplah angkat muka sebentar-sebentar, sehingga tidak total terpaku pada teks lagu dari awal sampai akhir lagu. Melirik pun jadilah! Seorang dirigen bilang memang agak sulit minta perhatian para anggota koor. Dirigen diberi podium khusus justru supaya bisa dilihat dan melihat seluruh anggota paduan suara, dan umat umumnya. (Paduan suara tidak mesti top, sudah bagus apabila lebih kompak menyanyikan baris-baris lagu untuk Tuhan dan umat-Nya).

(Leo Jegho)

Lihat Juga:

Serba-Serbi (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Selasa, 16 Januari 2024

Hari Biasa Pekan II Ekaristi harus disediakan bagi umat beriman, antara lain "sebagai penangkal, melaluinya kita dibebaskan dari kesalahan-kesalahan...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi