Kerygma sebagai Ujung Tombak

 J.A. Gianto/Alexander Yusup  |     16 Apr 2017, 23:56

'Peternakan Terancam', berita Kompas 18 Maret 2017. Ternyata revolusi digital juga mulai merambah ke industri pangan. Para jagoan industri teknologi digital di Silicon Valley (Pusat Industri Digital di AS) mulai memikirkan bagaimana menghasilkan daging ayam (sintentis) dengan teknik reproduksi sel. Memphis Meat sedang giat melakukan penelitian menghasilkan daging tanpa binatang dan siap mengumumkan di tahun 2021.

Kerygma sebagai Ujung Tombak

Lalu, apa hubungannya kemajuan teknologi dengan Pembekalan Kerygma (Pewartaan) yang berjalan 12 kali sejak bulan Januari sampai April di Paroki Tomang? Tentu ada! Kemajuan teknologi sudah merambah dunia informasi dan komunikasi menimbulkan gegar budaya bagi umat yang terpapar kemajuan ini, karena perubahan cepat, tidak menentu, kompleks dan bermakna ganda (hari benar besok bisa salah). Mau atau tidak mau, hal ini mengubah pola hubungan interpersonal, pola perilaku individu, demikian pula institusi.

Telah lahir Connected Generation atau 'Gen C' atau lazim juga dengan istilah 'Gen Y' yang sangat akrab dengan Facebook, Instagram, Twitter, Youtube, dan lain-lain. Akibatnya marak muncul hoax atau informasi palsu. Muncul juga BERITA-BERITA PALSU BERKAITAN DENGAN IMAN. Dalam pertemuan formal maupun informal mungkin muncul diskusi atau pertanyaan sekitar berita palsu. Misal, pernah beredar viral yang berisi bahwa Paus Fransiskus mengizinkan perceraian dalam Gereja Katolik; atau perkawinan sejenis sudah mendapat restu dari Paus. Di sinilah peran umat sebagai PEWARTA LINGKUNGAN bisa memberi analisis yang lebih baik berdasar pengetahuan iman Katolik yang diterima ketika mengikuti pembekalan KERYGMA. Seandainya masih ragu menjawab atau menjelaskan, ia dapat meneruskan pertanyaan ini ke PastorParoki atau orang lain. Gereja harus tetap menjaga tradisi dan bukan sebagai museum, melainkan sumber air hidup menghadapi perubahan zaman. Gereja artinya kita semua baik hierarki maupun awan perlu terlibat karena kita semua diutus (Mat 28:19-20).

Lingkungan Kuat, Gereja Hebat

Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) menanggapi persoalan tersebut dalam Arah Dasar (ARDAS) 2016-2020 'Katekese dan Liturgi yang Memerdekakan'. Paroki Tomang mengimplementasikan butir Ardas ini dalam bentuk membangun LINGKUNGAN KUAT dengan cara MENDORONG setiap lingkungan mempunyai PEWARTA LINGKUNGAN (Seksi Katekese Lingkungan, SKL). Lingkungan kuat - Gereja Hebat, itulah yang mendasari PILAR PEWARTAAN mengajak semua seksi di bawah naungannya (Sie Katekese, Sie Kerasulan Kitab Suci, Sie Komunikasi Sosial, dan Sie Panggilan) berkolaborasi merumuskan dan mengimplementasikan Program Karya PEMBEKALAN KERYGMA.

Para peserta dibekali dengan materi-materi seperti Teologi Dasar, Andragogi, Panggilan menjadi Pewarta, Analisis Sosial, Pengantar Perjanjian Lama dan Baru, Liturgi dan Sakramen, Spiritualitas, Doa dan Devosi, serta yang terakhir para peserta belajar untuk berkatekese.

Lewat pembekalan ini para peserta minimal dapat mengimplementasikan pengetahuan iman Katolik di lingkungan sebagai PEWARTA LINGKUNGAN untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan umat lingkungan seputar pengetahuan dasar iman Katolik, sehingga umat di lingkungan mendapat pengetahuan yang tepat sesuai ajaran iman Katolik. Hal ini penting mengingat infomasi dengan cepat akan tesebar ke mana-mana. Iman umat perlu diperlihara, dijaga kemurniannya, dari ajaran-ajaran keliru. Sungguh mulia mereka yang terlibat sebagai Pewarta Lingkungan, karena mereka membatu pastor paroki dalam menjaga ajaran iman Katolik di lingkungan.

Melihat antusiasme dari peserta, rata-rata sekitar 150 orang hadir dalam setiap sesi, boleh dikatakan hampir mewakili seluruh lingkungan di Paroki Tomang, panitia mengambil kesimpulan bahwa Pembekalan Kerygma menjadi kebutuhan utama yang mendesak

Setelah Itu, Apa?

Setelah mengikuti Pembekalan Kerygma, peserta yang mau lebih serius berkarya dalam bidang pewartaan secara lebih formal maka mereka dapat menempuh dua jalur yaitu pertama, menjadi PEMANDU; dan kedua menjadi KATEKIS.

Pembekalan lanjutan menjadi Pemandu akan diadakan sebanyak 5 kali pertemuan yang berupa satu kali menjelaskan Peran dan Tanggung Jawab Pemandu Lingkungan; kemudian latihan praktik empat kali. Seorang Pemandu adalah Fasilitator yaitu orang yang membuat jalannya pertemuan menjadi lancar sehingga memudahkan umat belajar atau mendapat manfaat. Fasilitator tidak cukup hanya bermodalkan kesediaan dan kemauan, tetapi perlu didukung dengan kemampuan dan keterampilan dalam pelayanannya. Fasilitator diharapkan mampu menjadi moderator, dinamisator, animator, motivator, dan motor bagi terwujudnya communio yang dinamis di tingkat lingkungan.

Peserta yang berminat menjadi Katekis Lingkungan untuk melayani lansia dan umat berkebutuhan khusus bisa melalui pembekalan tambahan dari Sie Katekese. Bila sungguh berminat melayani dalam jangkauan lebih luas menjadi Katekis Paroki maka peserta kelas Kerygma perlu mengikuti pembekalan tambahan dari KAJ, minimal Dasar Katekese Umat (DKU).

Apakah aku siap dipanggil menjadi PEWARTA LINGKUNGAN? Semoga.

Lihat Juga:

Serba-Serbi (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Sabtu, 16 Januari 2021

Hari Biasa Pekan I Pekerjaan yang baik tidak hanya menghiasi kehidupan orang baik, tetapi juga merupakan hiasan bagi semua orang. (Paus Klemens I)...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi