Setujukah Anda Bila Perempuan Jadi Pastor?

 Judith Wijaya  |     22 Apr 2017, 23:48

Masih dalam nuansa peringatan Hari Kartini pada Jumat lalu, Warta Minggu mencoba "iseng" menanyakan peran perempuan dalam pelayanan menggereja. Pertanyaannya cukup menggelitik: setujukah Anda bila perempuan jadi pastor? Berikut jawaban mereka:

Dari zaman dulu pun, tidak perempuan menjadi romo atau pastor, dan romo atau pastor itu ibarat perantara atau gambaran Yesus yang melakukan perjamuan bersama para murid-Nya. Perempuan bisa mengambil peran di gereja sebagai suster atau prodiakones. Karena dua peran itu pun penting di dalam gereja dan mereka dapat melayani Tuhan maupun umat walaupunmereka tidak menjadi romo atau pastor.
(Mariza - Wilayah 2)

Sebaiknya perempuan jangan jadi pastor. Cukup suster atau biarawati saja. Karena di kitab suci juga mengatakan bahwa dua belas rasul pun semuanya adalah pria.
(Angel - Wilayah 5)

Setuju jika peremuan jadi pastor karena kita sebagai manusia memiliki hak yang sama di mata Tuhan, siapapun pemimpinnya, asal dari manusianya mau melayani dengan hati, kenapa tidak? Lagipula, perempuan itu berpikir menggunakan perasaan, mungkin untuk beberapa kasus tertentu. Ada baiknya perempuan yang menangani karena perempuan lebih peka akan beberapa hal dan lebih memiliki sifat melindungi.
(Santi - Wilayah 6)

Imam adalah gambaran Tuhan sebagai gembala gereja. Dalam kitab suci hubungan Yesus dengan umatnya ini digambarkan sebagai mempelai pria dan gereja adalah mempelai perempuan. Jika memperbolehkannya, kalau di dunia awam ibarat melegalkan transgender yang sebetulanya malah jadi gambaran "menolak" kodrat yang sudah Tuhan berikan ke orang tersebut. Tapi, bukan berarti kita sebagai gereja menolak orang-orang yang transgender, melainkan kita tidak membenarkan perbuatannya. Perempuan bisa banyak berperan, asal bukan masuk ke dalam struktur hirarki gereja. Misal, menjadi pemazmur, lektor, seksi liturgi, dan masih banyak asal jangan takut.
(Caroline - Wilayah 7)

Saya tidak setuju jika perempuan menjadi pastor. Sebenarnya, peran perempuan yang bisa diambil dalam gereja itu banyak, seperti prodiakones misalnya. Ini merupakan sebuah kemajuan.
(Vonny - Wilayah 9)

Kita tahu bahwa pastor adalah gambaran dari Yesus sendiri yang hidup di dunia. Yesus adalah pria sehingga pastor pun tentunya pria. Perempuan bisa menjadi orang yang membantu menyempurnakan atau melengkapi gereja, seperti lektor, koor, pemazmur, dan lain-lain. Peran itu pun juga cukup diagungkan karena kalau tidak ada peran itu akan susah juga nantinya.
(Grace - Wilayah 10)

Tidak setuju perempuan menjadi pastor karena sudah ada suster atau biarawati. Sebaiknya menjadi lektor, pewarta, dan sebagainya.
(Vani - Wilayah 11)

Imam atau pastor merupakan pria. Mengapa? Pria sebagai rupa Allah, Bapa, dan Yesus. Pria memiliki peran untuk menjadi pemimpin dalam keluarga. Perempuan bisa berperan menjadi suster, petugas liturgi seperti lektor, prodiakoner, koor, awam, pendoa, katekis, dan lain-lain.
(Anastasia - Wilayah 13)

Tidak setuju perempuan jadi pastor karena perempuan lebih suka terbawa perasaan, sehingga dalam pelayanan memungkinkan sikap tak objektif. Perempuan bisa berperan menjadi biarawati, pendoa, administrasi, dan lain-lain.
(Putri - Wilayah 5)

Setuju saja jikalau perempuan jadi pastor. Karena bukannya pria menjadi pastor hanya karena tradisi? Sebab tidak akan ada perubahan yang signifikan dengan perempuan menjadi pastor juga, hanya gender dari pastor itu sendiri. Malah mungkin kalau pengakuan dosa menjadi lebih nyaman untuk beberapa orang.
(Tasha - Wilayah 7)

Lihat Juga:

Serba-Serbi (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Jumat, 7 Agustus 2020

Hari Biasa Pekan XVIII (Jumat Pertama Dalam Bulan) "Jiwa, yang telah dipersatukan dan diubah dalam Allah, bernapas di dalam Allah dengan pernapasan...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi