Berevangelisasi Baru Menjawab Tantangan Jaman

  28 Oct 2010, 22:59

Los Angeles Times mewartakan akhir September 2010 hasil U.S Religious Knowledge Survey, yaitu bahwa di Amerika kaum ateis dan agnostik lebih faham perihal agama daripada rata-rata pemeluk agama mayoritas, dan bahwa sikap mereka lebih didorong studi sikap pemeluk agama itu sendiri daripada pengetahuan terhadap agama itu. Ini dibenarkan Profesor Stephen Prothero dari Boston University dalam bukunya: Religious Literacy.

Itulah akibatnya bila agama sekadar "warisan" dan iman tidak lahir dari pergulatan batin, tukas ibu Helena Dewi Justicia, tokoh dan pemikir muda katolik. Di Indonesia pun terdapat situasi menyatakan diri sebagai pemeluk agama damai di negara Pancasila ber "Ketuhanan Yang Maha Esa" memaksakan dan melarang doa, ibadah dan agama yang "salah" atas nama Tuhan, ber" Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab" melalui kemudahan amuk masa, mencabut nyawa dan menghancurkan harta sesama manusia, ber-" Persatuan Indonesia" lewat mementingkan kelompok sendiri menghancurkan solidaritas berbekal dana korupsi, ber" Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan" dengan manipulasi politik lewat proses demokrasi, ber " Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia" melalui kecil foya-foya, tua kaya raya, mati minta masuk surga menolak berbagi dengan yang menderita dan kekurangan. Yesus serta tugas perutusan-Nya tak berubah, tetapi jaman, budaya dan situasi berubah, menantang kaum beriman merayakan iman yang dihayati melalui iman yang hidup dalam tindakan nyata "ite missa est" untuk membumikan imannya.

Evangelisasi baru tujuannya bukan pertama-tama menambah baptisan baru, melainkan justru mewartakan injil dalam kebudayaan dan tempat umat beriman hidup serta berkembang. Kepribadian yang "rapuh" bagaikan harta dalam bejana tanah liat, hendaknya kita jadikan pribadi yang siap ber" discernment" dalam kesediaannya untuk selalu belajar mempertanyakan peristiwa hidupnya dalam keutuhan terang injil, tradisi dan ajaran magisterium. Belajar bertanya mesti dimulai dengan observasi partisipatif terlibat kehidupan masyarakat setempat, menemukan keprihatinan manusia dan mencari peluang pewartaan dibalik keprihatinan ini agar penaburan benih injili dapat dilakukan bersama seluruh jaringan komunitas basis.

Evaluasi selalu perlu dilakukan untuk perbaikan dan proses bertanya baru agar evangelisasi ini senantiasa tanggap situasi baru. Seperti simbolik pohon bambu dengan akar-akarnya waktu Natal pengganti cemara yang dipercaya petani sebagai pembersih air dan menawar racun kolam ikan, kita melanjutkan misi Yesus menjadi penawar racun "dosa" yang berurat akar dalam hidup manusia. Bila suatu perayaan Katolik (perkawinan, Rabu Abu dan lain-lain) kita hias dengan tebu, kelapa cengkir dan pohon pisang misalnya hendaknya ia mencerminkan peranan kateketis dan aspek pewartaan.

Bukankah tebu dalam bahasa Jawa antebing kalbu (kemantapan hati, tekad bulat), cengkir itu kenceng ing pikir (berpegang pada prinsip yang benar), pohon pisang selalu memberi kesempatan orang lain untuk tumbuh dan berkembang, juga kalau dirinya belum tumbuh. Dalam masyarakat yang tak ada Katoliknya pun evangelisasi dapat dijalankan dengan kehadiran dan hidup sesuai iman Katolik, mengasihi sesama sebagai bukti keyakinan Tuhan adalah iman, harapan dan kasih. Melalui evangelisasi kita, wajah Yesus ditantang untuk diperkenalkan sesuai jaman dalam dialog budaya, agama dan kepercayaan lain serta dalam pergumulan hidup keberpihakan kepada kaum marginal dan terabaikan. Seperti Yesus kita terpanggil agar semua memperoleh hidup dalam kelimpahan (bdk. Yoh. 10: 10) menjawab tantangan jaman ini.

(Ansano Widagdyo - Ratu Damai IVInspirasi pelbagai sumber)

Lihat Juga:

Serba-Serbi (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Selasa, 16 Januari 2024

Hari Biasa Pekan II Ekaristi harus disediakan bagi umat beriman, antara lain "sebagai penangkal, melaluinya kita dibebaskan dari kesalahan-kesalahan...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi