Mengenal Hari Minggu Palma

 Yeremias Jena  |     1 Apr 2017, 18:19

Segera setelah mendapatkan kebebasannya di abad ke-4 Masehi, umat Katolik di Yerusalem kembali merayakan kemeriahan masuknya Tuhan Yesus ke dalam kota mereka di hari Minggu sebelum minggu Paskah. Umat tumpah ruah di jalanan kota dalam prosesi meriah, memegang daun-daunan sambil berseru Hosanna (Mat 21: 1-11). Pada masa awal Gereja Katolik Latin, umat menghadiri misa meriah pada hari Minggu Palma ini sambil memegang ranting-ranting zaitun, yang pada masa itu memang tidak diberkati imam.

Prosesi hari Minggu Palma dan pemberkatan daun-daun palma tampaknya bersumber pada Kerajaan Frank di Jerman (451-843). Praktik paling awal dari kebiasaan perayaan ini dapat ditemukan dalam karya Sacramentary yang ditulis oleh Rahib Bobbio dari Italia Utara (abad ke-8 masehi). Ritus dan praktik hari Minggu Palma ini kemudian diterima di Roma dan disatukan dalam liturgi. Doa-doa yang digunakan sekarang berasal dari tradisi ritus Roma. Di masa ini, misa hari Minggu Palma terlebih dahulu dirayakan di gereja-gereja di luar tembok kota Roma. Daun-daun palma yang digunakan dalam perayaan itu terlebih dahulu diberkati oleh imam. Setelah pemberkatan daun palma dan perayaan di gereja-gereja di luar tembok kota Roma, umat melakukan prosesi menuju Basilika Lateran atau Basika Santo Petrus. Di sanalah dilanjutkan perayaan misa yang kedua oleh Sri Paus. Dalam perkembangan selanjutnya, misa pertama ini ditiadakan dan diganti dengan perayaan pemberkatan daun palma. Sampai saat ini, ritus pemberkatan daun palma masih mengikuti struktur misa minggu Palma, sejak awal hingga bagian Kudus.

Di setiap gereja selama abad pertengahan, mengikuti tradisi dan kebiasaan orang Romawi, hari Minggu Palma dirayakan dalam sebuah prosesi saat kaum klerus dan umat berarak dari sebuah kapel atau gereja di luar kota tempat daun-daun palma diberkati, menuju gereja utama. Selama prosesi itu, kehadiran Tuhan Yesus disimbolkan oleh Sakramen Mahakudus atau Salib. Simbol ini kemudian disembah dengan berbagai kembang yang dibawa para pemimpin misa. Di zaman abad pertengahan, muncul kebiasaan menyertakan patung Yesus terbuat dari kayu sambil menunggang keledai dalam prosesi itu. Banyak patung semacam itu (disebut Keledai Palma) yang masih tersimpan di museum-museum di banyak kota di Eropa.

Begitu prosesi mendekati pintu gerbang kota, sekelompok anak laki-laki dalam sebuah koor akan melantunkan lagu sebagai ucapan selamat datang kepada Tuhan Yesus. Biasanya yang dinyanyikan adalah lagu Latin berjudul Gloria, Laus et Honor. Himne ini, yang memang masih digunakan dalam liturgi Minggu Palma hingga dewasa ini, ditulis oleh seorang Rahib Benediktin bernama Theodulph di tahun 821 masehi. Pujian pun terlantun dari himne itu: Kemuliaan, pujilah dan muliakan/ O Kristus, Raja dan Penebut Kita/ Kepada-Mu dalam keagungan Hosanna/ Mengilhami anak-anak untuk bernyanyi.

Setelah himne ini diperkenalkan, berbagai himne lainnya pun bermunculan. Semuanya bermaksud memuji dan memuliakan Tuhan secara dramatis di hadapan Sakramen Mahakudus atau di hadapan gambar maupun patung Kristus, ketika para klerus dan awam membungkukkan badan dan sujud dalam doa. Demikian pula tradisi membentangkan pakaian dan karpet di jalan, menabur kembang dan ranting-ranting saat prosesi lewat. Tidak ketinggalan bunyi lonceng bertalu-talu dari menara gereja diikuti sorak-sorai umat menyanyikan lagu Hosanna ketika prosesi memasuki katedral. Perayaan misa meriah pun segera dimulai.

Selama masa abad pertengahan perayaan Minggu Palma yang sifatnya dramatis dibatasi hanya di sekitar halaman gereja. Salib yang ada di halaman gereja biasanya dihiasi secara meriah menggunakan bunga-bunga. Dari sanalah perarakan dimulai dan bergerak memasuki ruang gereja. Ketika kaum klerus menyanyikan himne dan antifon, umat menyebar di antara kubur dan setiap keluarga akan berlutut di samping kubur sanak saudaranya. Pemimpin upacara akan memercikkan air kudus ke para hadirin yang sedang berlutut di samping kubur anggota keluarganya itu. Setelah itu umat kembali bergerak memasuki gereja. Di Prancis dan Inggris, tradisi menghiasi kubur menjadi berwarna-warni dan mengunjungi makam di hari Minggu Palma masih dipelihara hingga saat ini.

Upacara dan perayaan di masa kuno sudah tidak dipraktikkan lagi dewasa ini, kecuali teks-teks suci yang digunakan dalam liturgi. Belakangan ini, pemberkatan daun palma dan prosesi (jika ada) dilakukan langsung di dalam gereja sebelum misa dimulai. Di Amerika Serikat dan di banyak negara lainnya, gereja atau paroki menyediakan dan membagikan daun palma kepada umat yang hadir (Catatan: di Paroki MBK, ada rencana supaya umat menyediakan dan membawa sendiri daun palma).

Berbagai nama untuk hari Minggu sebelum Paskah berasal dari tanaman yang digunakan - Palma (Minggu Palma) atau ranting-ranting pohon pada umumnya (Minggu Ranting-ranting). Di sebagian besar negara Eropa daun palma asli memang tidak tersedia. Sebagai ganti, mereka menggunakan ranting zaitun (di Italia), ranting cemara atau pohon willow (semacam cemara). Bahkan karena praktik semacam ini maka meskipun daun atau ranting yang digunakan bukan daun palma asli, istilah daun palma tetap digunakan bersamaan dengan penggunaan daun atau ranting dari pohon-pohon lain. Demikianlah, umat Irlandia dan Inggris menyebut daun palma mereka dengan nama palm-willow atau di Jerman dengan nama palmkatzchen. Dengan begitu, hari minggu palma disebut sebagai hari minggu cemara atau willow Sunday di Irlandia dan Polandia. Orang Lithuania menyebutnya sebagai Verbu Sekmadienis (hari minggu ranting cemara). Gereja Yunani menyebutnya dengan nama Hari Minggu Membawa Palmaatau dan Minggu Hosanna. Umat Katolik di Indonesia pernah menggunakan istilah hari minggu daun-daun, dan sekarang digunakan hari minggu palma.

Akhirnya, hari Minggu Palma disebut demikian karena umat Katolik menggunakan daun palma atau cabang dan ranting pohon lainnya ketika mereka memperingati Tuhan Yesus memasuki Yerusalem. Injil mengabarkan bahwa Yesus memasuki Yerusalem menunggang seekor keledai. Ribuan orang menyambut dia dalam sorak-sorai. Mereka melambaikan ranting-ranting zaitun dan membentangkan pakaiannya di jalan. Ranting zaitun atau daun palma melambangkan perdamaian dan kemenangan. Keledai melambangkan kedatangan yang rendah hati dari seorang tokoh pembawa damai. Kemenangan yang dibawa Kristus adalah kebangkitan-Nya mengalahkan maut demi membebaskan dosa manusia. Kemenangan itu tidak diperoleh melalui perang dan kekerasan, tetapi dengan kerendahan hati dan penyerahan diri.

Lihat Juga:

Tema Minggu (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Rabu, 20 November 2019

Hari Biasa Pekan XXXIII Sejak Paskah, Roh Kudus "menginsyatkan" dunia akan "dosa" (Yoh 16:8-9), artinya Ia menyingkapkan bahwa dunia tidak percaya...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi