Pertobatan Ekologis, Tantangan yang Realistis

 Helena D.Justicia  |     4 Mar 2017, 13:15

Baru saja misa selesai, seorang anak muda keluar dari pintu samping gereja lantas menyalakan rokoknya. Seorang umat lain yang melihat langsung menegur, "Mas, MBK bebas asap rokok! Gak boleh merokok di sini!" Anak muda itu terkejut, lalu mematikan rokoknya dan berjalan ke arah parkiran kendaraan.

Pertobatan Ekologis, Tantangan yang Realistis

Masih banyak pemandangan serupa yang perlu mendapat perhatian kita sebagai umat MBK. Sehabis misa, sampah menumpuk di tempat-tempat sampah dan tercampur. Padahal Seksi Lingkungan Hidup sudah menyediakan tempat sampah yang berbeda-beda. Ada tiga kategori: kertas, plastik dan organik. Di dalam gereja pun terdapat sampah: tisu, teks misa kusut atau malah robek, juga WM yang dibaca saat misa.

Sehari-hari pun di MBK banyak aktivitas. Menjadi keprihatinan tersendiri, anak-anak sampai orang dewasa masih saja tampak membawa makanan dengan wadah styrofoam. Padahal sejak tahun 2013, Keuskupan Agung Jakarta sudah menyerukan Gerakan Pantang Plastik & Styrofoam (Pantikfoam).

Pertobatan di Zaman Modern

Bicara soal kebersihan, atau lingkungan hidup, barangkali dikira orang hanya sekadar bagian dari gerakan gaya hidup sehat. Hal itu mudah dipahami jika landasan gerakannya kurang dipahami. Merawat lingkungan hidup bukan sekadar bersih-bersih, namun melaksanakan amanat Allah sendiri sebagaimana tercantum dalam Kitab Suci: beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi (Kejadian 1:28).

Merawat lingkungan hidup, tak pelak menjadi program serius Keuskupan Agung Jakarta. Berbagai aksi dibuat, mulai dari 'Taruh Sampah Jadikan Berkah' (gerakan daur ulang sampah), Dekorasi Gereja Ramah Lingkungan (meminimalkan pemakaian bunga potong dan material tak ramah lingkungan), bahkan menetapkan kriteria Paroki Ramah Lingkungan. Bekerja sama dengan Komisi PSE, juga digerakkan penanaman sayur organik di halaman rumah umat (gerakan pangan sehat). Secara khusus, umat Katolik KAJ diajak (kembali) untuk berpantang plastik dan stryrofoam. Ajakan itu termuat dalam Peraturan Pantang dan Puasa KAJ 2017.

Pertobatan Ekologis, Tantangan yang Realistis

Pertobatan ekologis, istilah keren dari gerakan lingkungan hidup ini, tidak mudah dilakukan. Dalam sebuah acara seminar di MBK, kendati sudah dijelaskan bahwa sampah peserta harus dipisahkan, tetap saja semuanya bercampur. "Masih ada yang tidak tahu sampah organik itu maksudnya apa," kata Mia, seorang panitia. Panitia lainnya menimpali, "Ada juga yang tidak bisa membedakan antara sampah plastik dan kertas."

Ditengarai, selain kurangnya pengetahuan, ada juga faktor-faktor lain yang membuat pertobatan ekologis tak lancer berjalan. Di sebuah paroki di Jakarta Barat, kantong sampah dibuat transparan sehingga tembus pandang. Dengan begitu, orang jadi terbantu untuk melihat jenis sampah tertentu yang boleh dimasukkan. Di paroki lain, ada larangan keras bagi umat untuk menggunakan kantog plastic dan styrofoam. Bahkan paroki itu berhasil memaksa penjual makanan di sekitar gereja untuk tidak menggunakan styrofoam. Menariknya, agar umat tak kesulitan, paroki tersebut menjual tas-tas kain dengan harga murah serta botol minum yang bisa diisi dengan air dari galon yang disediakan. Tas maupun botolnya bergambar logo paroki, sehingga tampak keren.

Meneruskan Kembali yang Sudah Dimulai

MBK sendiri sebetulnya termasuk paroki-paroki awal di KAJ yang menetapkan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Sejak tahun 2007, mulai dilakukan penyadaran bagi umat mengenai pengelolaan sampah. Sudah banyak dilakukan pembuatan lubang biopori, juga penggunaan komposter. Sebagaimana umumnya dinamika gerakan, pasti ada pasang-surut yang dialami. Inilah alasan, pertobatan ekologis perlu terus-menerus disuarakan. Jika tidak, yang terjadi adalah pembiaran, pengabaian, bahkan mungkin lama-lama akan dilupakan.

Masa Prapaskah 2017 ini adalah masa yang tepat untuk meneruskan kembali hal-hal baik yang sudah dimulai. Pertobatan ekologis perlu mendapat perhatian di hati umat. Pertobatan bukan hanya memperbanyak jam doa, lebih rajin menghadiri misa, atau mengantre di depan ruang pengakuan dosa. Pertobatan juga berarti mengubah secara konkret, kondisi lingkungan hidup yang tak terawat pun tak terjaga, agar bumi kembali pada martabatnya semula: Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik (Kejadian 1:31).

Pertobatan Ekologis, Tantangan yang Realistis

Semoga tak terlalu berlebihan jika berharap, di MBK tak lagi pemandangan ini terlihat: sampah yang berserakan atau bercampur, maupun anak-anak sekolah atau umat yang menenteng styrofoam sebagai wadah makanan mereka.

Lihat Juga:

Tema Minggu (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Jumat, 15 November 2019

Hari Biasa Pekan XXXII Meskipun semua nyanyian sama, nyanyian gregorian yang merupakan ciri khas liturgi Romawi, hendaknya diberi tempat utama ....

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi