Menantikan Kedatangan-nya Sambil Melaksanakan Delegasi Tugas-nya

 Andreas Pratama  |     21 May 2015, 13:59

Hari Raya Pentakosta merupakan satu dari tujuh hari raya bangsa Israel, yaitu: Hari Raya Paskah, Hari Raya Roti Tak Beragi, Hari Raya Buah Sulung, Hari Raya Pentakosta, Hari Raya Peniupan Nafiri, Hari Raya Pendamaian, dan Hari Raya Pondok Daun. Di Hari Raya Pentakosta, umat Israel dari seluruh dunia biasanya datang ke kota Yerusalem untuk merayakan Shavuoy atau Festival Panen Raya. Festival tersebut diadakan untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas berkat-Nya, sehingga hasil panen pun melimpah ruah.

Namun sama halnya dengan Hari Raya Paska umat Yahudi yang mendapatkan makna baru lewat sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus, Hari Raya Pentakosta juga memiliki arti baru. Di hari tersebut, Gereja mengenang turunnya Roh Kudus yang dijanjikan Yesus ke atas para murid yang tengah berkumpul, ke tengah-tengah Gereja yang masih muda, yang masih bertekun dalam doa sambil menantikan kedatangan-Nya kembali ke dunia.

Meskipun disebut telah mengalami pergeseran makna, tetapi pada saat ini pun Hari Raya Pentakosta juga masih dikaitkan dengan pencurahan berkat Tuhan kepada umat-Nya. Pencurahan berkat yang dimaksud berupa pencurahan Roh Kudus oleh Allah sendiri yang akan memberikan kita Dunamos, sebuah kekuatan yang dahsyat. Dunamos ini nantinya akan menggerakkan kita, orang-orang yang percaya kepada-Nya, untuk melakukan sesuatu yang berasal dari Roh Kudus.

Turunnya Roh Kudus atas para murid ini juga merupakan penggenapan atas janji Yesus: "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu." (Yoh. 14:16-17).

Turunnya sang Penolong tersebut, seperti yang bisa kita baca di Kitab Para Rasul, ditandai oleh bunyi seperti tiupan angina keras yang memenuhi seluruh rumah di mana para murid dan ibu Maria tengah berkumpul. Setelah itu tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api dan hinggap pada mereka masing-masing. Seketika itu pula, penuhlah mereka dengan Roh Kudus dan mereka dapat berbicara dengan bahasa-bahasa yang belum pernah para murid lafalkan sebelumnya.

Kuasa untuk berbicara dalam bahasa-bahasa asing juga menunjukkan bahwa para murid telah diserahi secara resmi tugas untuk mewartakan kabar gembira kepada semua bangsa. Namun tentu saja kita sebagai umat Katolik pada zaman modern, tak lepas dari tugas pewartaan tersebut, karena Yesus telah secara resmi naik ke surga dan mendelegasikan misi-Nya kepada umat yang percaya kepada-Nya.

Tetapi bagaimanakah kita tahu kalau kita sudah menerima Roh Kudus di dalam hati kita? Mudah saja. Kita lihat saja buah-buahnya, karena pohon yang baik akan selalu menghasilkan buah yang baik.

Lihat Juga:

Tema Minggu (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Jumat, 21 Januari 2022

Peringatan Wajib St. Agnes, Perawan dan Martir Di surga aku disatukan dengan Tuhan, sebab di dunia aku cinta pada-Nya dengan sepenuh hati. (St....

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi