Panggilan: Anugerah Kasih dari Allah

 Andreas S. Pratama  |     26 Apr 2015, 07:23

Panggilan dan jawaban bagai dua sisi mata uang. Sekeping mata uang bernilai karena ada dua sisi: gambar dan angka; demikian pula panggilan bernilai jika ada yang memanggil dan ada yang menjawab. Jawaban mengandaikan ada panggilan.

Panggilan: Anugerah Kasih dari Allah

Allah memanggil semua orang untuk menjadi kudus. Namun dalam panggilan umum kepada kekudusan itu, Allah memilih serta mengundang beberapa orang secara khusus agar hidup lebih dekat dengan PutraNya, untuk dijadikan pelayan dan saksi-Nya. Sang Guru memanggil para rasul satu persatu untuk "menyertai Dia dan untuk diutus memberitakan Injil; mereka diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan" dan pada gilirannya mereka memanggil murid-murid yang lain sebagai rekan setia dalam pelayanan Injil.

Maka terjadilah sepanjang sejarah, sejumlah besar orang menanggapi panggilan Yesus dan membuka diri terhadap suara Roh Kudus dengan menjadi imam, biarawan-biarawati dan menjadi pelayan Injil yang utuh dalam Gereja.

Namun bila kita melihat lebih dalam, akan timbul pertanyaan, "Dari mana sebenarnya asal panggilan ini?". Paus Benedictus XVI dalam Deus Caritas est menjelaskan jawaban atas pertanyaan itu dengan mengutip tulisan para orang kudus:
(1) Santo Paulus mengatakan bahwa Allah dalam diri Putera-Nya, "telah memilih kita sejak sebelum penciptaan dunia, untuk menjadi kudus dan tak bercela di hadapan-Nya di dalam kasih" (Ef.1:4).

(2) Beato Yohanes Paulus II menegaskan bahwa "setiap tindakan pelayanan, yang mengantar pada cinta dan pelayanan Gereja, harus mendorong untuk semakin menumbuhkan kasih dan pelayanan kepada Yesus Kristus sebagai Kepala, Gembala dan Mempelai Gereja, suatu kasih yang selalu menjadi suatu jawaban atas Kasih Allah yang bebas dan cuma-cuma dalam diri Yesus Kristus" (Pastores Dabo Vobis, no. 25). Itulah sebabnya, setiap 'panggilan khusus' lahir dari prakarsa/inisiatif Allah: inilah anugerah Kasih Allah! Allah-lah yang mengambil "langkah pertama", bukan karena Dia telah menemukan sesuatu yang baik dari diri kita, melainkan melulu karena kasih-Nya sendiri "yang dicurahkan ke dalam
hati kita oleh Roh Kudus" (Rm.5:5).

(3) St. Yohanes dari Salib mengajak priorin Biara Segovia, Jangan berpikir pada sesuatu apapun selain Allah yang mengatur segala sesuatu. Di mana tidak ada kasih, taburkanlah kasih, dan di sanalah engkau akan menuai kasih (Surat, 26).

(4) Pastor Yohanes Maria Vianney dari Ars senang dengan ungkapan: "Imam-imam bukanlah imam-imam bagi dirinya sendiri, melainkan bagi kalian semua - jemaat kristiani" (Le
curé d'Ars. Sa pensée - Son coeur, Foi Vivante, 1966, p. 100).

(5) Paus Gregorius Agung yang di dalam Moralium Libri Sive Expositio in Librum, Paus Gregorius Agung pernah berkata, "Di dalam hati kita sebagai sebidang tanah garapan, Allah
menanam terlebih dahulu benih kasih bagi kita, dan dari benih ini muncullah tunas-tunas kasih satu kepada yang lain".

Dengan meneladani sikap Bunda Maria, kita pun patut menjawab "ya" dengan komitmen dan keyakinan kuat, karena Panggilan adalah sebuah anugerah kasih dari Allah sendiri.

Lihat Juga:

Tema Minggu (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Jumat, 21 Januari 2022

Peringatan Wajib St. Agnes, Perawan dan Martir Di surga aku disatukan dengan Tuhan, sebab di dunia aku cinta pada-Nya dengan sepenuh hati. (St....

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi