Sibuk Mencari Tuhan atau Pokemon?

 Sigit Kurniawan  |     30 Jul 2016, 16:57

Mungkin, satu hal yang paling Anda cari saat ini adalah Pokemon. Semenjak, dirilis beberapa waktu lalu, games mobile Pokemon Go memang menghebohkan dan viral di seluruh dunia. Bahkan, saking hebohnya, orang mencari Pokemon di waktu dan tempat yang kadang tak pas. Saat kerja, saat menghadiri resepsi, di jalan raya, di gereja, dan sebagainya.

Sibuk Mencari Tuhan atau Pokemon?

Dunia virtual tampaknya menjadi "realitas" baru bagi orang-orang yang serba gadget ini. Bahkan, bisa jadi, tokoh-tokoh dalam games tersebut dirasa lebih nyata ketimbang tetangga sebelah rumah.

Sementara itu, salah satu tantangan kehidupan rohani di tengah kota metropolitan seperti Jakarta adalah kemampuan batin melihat karya Allah dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi kalau kehidupan itu setiap harinya dibombardir aktivitas duniawi.

Bahkan, orang merasa tak punya waktu lagi untuk hening, berdoa, dan berefleksi. Lebih-lebih, ketika hidup terlalu dibisingkan dengan aneka hal, termasuk kegaduhan media sosial dan dunia virtual seperti Pokemon tadi.

Minggu ini, 31 Juli, Gereja Katolik memperingati Santo Ignatius dari Loyola, seorang mistikus dan pendiri Ordo Serikat Jesus (SJ). Santo Ignasius meninggalkan harta rohani yang besar bagi umat dari abad ke abad yang dikenal sebagai Spiritualitas Ignasian.

Spiritualitas Ignasian bersumber Latihan Rohani yang merupakan jejak bagaimana Allah membimbing mantan serdadu yang punya ambisi besar menaklukkan dunia itu. Salah satu yang menjadi pokok LR adalah latihan kesadaran. Kesadaran ini dilandasi oleh keyakinan bahwa Allah hadir dan berkarya dalam semua ciptaan.

Dengan itu, Ignasius percaya Allah juga hadir dan terlibat dalam segala aktivitas manusia. Sebab itu, kerohanian yang ditawarkan Ignasius adalah kerohanian yang aktif. Sebab itu, muncul istilah populer Ignasius, yakni Contemplativus in Actione, kontemplasi dalam aksi.

Allah yang senantiasa menyapa, menyemangati, membuka diri melalui aneka peristiwa sekecil apa pun. Mulai dari senyuman anak kecil, perjumpaan, pekerjaan, bacaan, kotbah, kitab suci, kemacetan, musik, relasi, bunga, dan sebagainya. Ujung dari semua itu adalah bersyukur.

Syukur pada cinta Allah mendorong orang untuk membaktikan dan mengabdikan dirinya untuk Allah dalam segala aktivitas hidupnya dengan sukacita. Semua pekerjaan pertama-tama dipersembahkan untuk Allah, bahkan kata Ignasius, demi Kemuliaan Allah yang Lebih Besar atau Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG).

Jadi, Allah atau Pokemon atau dua-duanya?

Lihat Juga:

Tema Minggu (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Minggu, 28 November 2021

Hari Minggu Adven I Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi